Nama : Intan Yusfindhani Putri
Kelas : 3EA14
Npm : 14213448
1.
Apa
yang dimaksud dengan perikau konsumen?
Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: pendapatan, selera konsumen, dan
harga barang, disaat kondisi yang lain tidak berubah (ceteris paribus).
Perilaku konsumen ini didasarkan pada Teori Perilaku Konsumen yang menjelaskan
bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai
barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang
diharapkannya.
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Studi perilaku konsumen muncul seiring dengan berkembangnya konsep pemasaran, yang merupakan cara pandang pemasar dalam menghadapi konsumen dan pesaingnya, di mana pemasarberusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen secara lebih efektif dari para pesaingnya.
2.
Segmentasi pasar
Segmentasi
pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar dari heterogen menjadi homogen.Jadi,
perusahaan yang berorientasi pada konsumen akan membagin pasarnya ke dalam
segmen-segmen pasar tertentu dimana masing-masing segmen bersifat homogen.
Homogenitas masing-masing segmen tersebut disebabkan oleh adanya
perbedaan-perbedaan dalam kebiasaan membeli, cara penggunaan barang, kebutuhan
pemakai, motif pembelian, tujuan pembelian, dan sebagainya.
Maksud, tujuan, dan manfaat segmentasi pasar
Maksud, tujuan, dan manfaat segmentasi pasar
A.
Maksud dan tujuan segmentasi pasar :
· Pasar lebih mudah dibedakan
Setiap produk yang dihasilkan adalah
untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Agar produk tersebut dapat
diterima tentunya haruslah sesuai dengan selera konsumen. Sedangkan dilain
pihak dengan keadaan pasar yang heterogen dan selera konsumen yang selalu
berkembang tentunya sulit untuk dapat diikuti oleh perusahaan secara terus
menerus. Dalam hal ini perusahaan akan cenderung mencari sekelompok konsumen
yang sifatnya hoogen sehingga lebih mudah untuk memahami selera konsumen.
Dengan demikian pasar lebih mudah dibedakan dengan kelompok pasar yang lain.
· Pelayanan kepada pembeli menjadi lebih baik
Dalam memenuhi kebutuhannya konsumen
selalu menginginkan tempat hal penting yaitu kualitas barang yang bagus, harga
yang terjangkau serta pelayanan yang baik dan memuaskan serta ketepatan waktu.
Dari keempat hal tersebut yang sangat dominan adalah perihal pelayanan. Banyak
konsumen lari ketempat lain karena masalah pelayanan. Harga dan kualitas kadang
menjadi nomor dua dibandingkan pelayanan. Menyadari hal terebut maka segmentasi
pasar harus dilakukan agar dapat memberikan pelayanan yang mengarah kepada
pasarnya. Pelayanan ini juga dimaksudkan untuk menarik perhatian konsumen.
· Strategi pemasaran menjadi lebih mengarah
Mengingat luas dan beragamnya pasar
konsumen, maka akan sulit untuk melayani semua konsumen yang sangat heterogen
tersebut. Maka dengan melayani konsumen yang sifatnya homogen maka strategi
pemasaran yang direncanakan dapat lebih mengarah dalam menyusun marketing mix
yang meliputi produk, harga, distribusi dan promosinya sehingga lebih tajam.
Disamping itu dengan melakukan egmentasi pasar maka dapat membantu pihak
manejemen ha;l mengarahkan dana dan usaha ke arah pasar potensial yang paling
menguntukan karena sasaran pasarnya jelas, serta dapat merencanakan produk yang
dapat memenuhi permintaan pasar berserta cara-cara promosi yang paling tepat
bagi perusahaan.
B. Manfaat segmentasi pasar
1. Menyalurkan uang dan usaha ke
pasar potensial yang paling menguntungkan.
2. Merencanakan produk yang dpat
memenuhi permintaan pasar.
3. Menentukan cara-cara promosi yang
paling lebih tepat bagi perusahaan.
4. Memilih media advertensi yang
lebih baik dan menemukan bagaimana mengaloksikan secara baik.
5. Mengatur waktu yang
sebaik-baiknya dalam promosi.
6. Para penjual atau perusahaan akan
berada dalam posisi yang lebih baik untuk menepatkan (mengarahkan) serta
membandingkan kesempatan-kesempatan atau harapan dalam pemasaran sehingga dapat
mempelajari kebutuhan setiap segmen.
7. Para penjual dapat menggunakan
pengetahuannya untuk menanggapi usaha pemasaran yang berbeda-beda sehingga
dapat mengalokasikan anggarannya dengan lebih tepat terhadap berbagai segmen.
8. Penjual dapat mengatur lebih baik
produknya dengan cara pemasarannya.
3.
Segmentasi dan kepuasan konsumen
Menurut
Philip Kotler dalam bukunya Principle of Marketing, kepuasan konsumen adalah
hasil yang dirasakan oleh pembeli yang mengalami kinerja sebuah konsumen yang
sesuai dengan harapannya. Kepercayaan konsumen merupakan hal yang ingin didapat
setiap perusahaan dari para konsumennya.
Macam-macam atau
Jenis kepuasan konsumen
Kepuasan konsumen terbagi menjadi 2 :
a.
Kepuasan Fungsional, merupakan kepuasan yang diperoleh
dari fungsi atau pemakaian suatu produk.
Misal : karena makan membuat perut kita menjadi kenyang.
b.
Kepuasan Psikologikal, merupakan kepuasan yang
diperoleh dari atribut yang bersifat tidak berwujud.
Misal : Perasaan bangga karena mendapat
pelayanan yang sangat istimewa dari sebuah rumah makan yang mewah
Menurut Fandy Tjiptono (1997:35), metode
yang digunakan untuk mengukur kepuasan konsumen dapat dengan cara :
a. Pengukuran dapat
dilakukan secara langsung dengan pertanyaan
b. Responden
diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan suatu
atribut tertentu dan seberapa besar yang dirasakan.
c. Responden diminta untuk menuliskan masalah
yang mereka hadapi berkaian dengan penawaran dari perusahaan dan diminta juga
untuk menuliskan perbaikan yang mereka sarankan.
d. Responden dapat diminta untuk meranking
berbagai elemen dari penewaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan
seberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen.
4.
Penggunaan
segmentasi dalam strategi pemasaran
Faktor
penting lain yang harus diperhitungkan ketika mengembangkan strategi pemasaran
untuk konsumen adalah “Segmentasi Pasar”. Segmentasi pasar berarti membagi
pelanggan potensial perusahaan ke dalam berbagai segmen atau kelompok
(misalnya, berdasarkan usia, jenis kelamin, agama, lokasi, dll) dan kemudian
memfokuskan strategi pemasaran pada satu atau lebih kelompok-kelompok. Bila
menggunakan segmentasi pasar, penting untuk menentukan apa faktor-faktor yang
akan dipertimbangkan. Faktor-faktor yang disebut variabel segmentasi. Variabel
segmentasi perlu berhubungan dengan kebutuhan, penggunaan, atau perilaku
terhadap produk atau jasa. Sebagai contoh, produsen gitar akustik akan paling
mungkin segmen pasar berdasarkan usia, yaitu, strategi pemasaran mereka akan
dirancang untuk menarik dan mempengaruhi remaja.
Sumber
daya dan kemampuan perusahaan untuk menentukan jumlah dan ukuran segmen pasar
yang mereka dapat berharap untuk menarik dengan strategi pemasaran mereka.
Jenis produk dan layanan, serta variasi dalam kebutuhan pelanggan mereka, akan
memainkan peran dalam ukuran dan jumlah segmen pasar yang ditargetkan. Memilih
variabel segmentasi yang tepat adalah bagian penting dalam penargetan pasar
konsumen tertentu. Memilih variabel segmentasi yang tepat adalah bagian penting
dalam penargetan pasar konsumen tertentu.
Segmentasi
pasar merupakan tindakan untuk mengidentifikasi dan membentuk kelompok pembeli
yang terpisah-pisah yang mungkin membutuhkan produk dan bauran pemasaran yang
tersendiri. Pada penelitian ini basis segmentasi yang digunakan adalah gaya
hidup yang dapat mempengaruhi bauran pemasaran dan preferensi terhadap bauran
pemasaran dari E-Commerce. Ini berarti basis segmentasi ini dilihat dari
perilaku mereka terhadap bauran pemasaran. Dengan kesamaan karakteristik
perilaku yang berpengaruh terhadap bauran pemasaran ini diharapkan setiap
segmen yang terbentuk dapat didekati dengan penawaran yang tepat sehingga
meningkatkan kepuasan pelanggan dari masing-masing segmen.
Dari
kedelapan elemen bauran pemasaran yang digunakan terdapat 6 elemen yang
signifikan dalam
membedakan antarsegmen,yaitu:
1. Produk
2. Promosi
3. Bukti fisik
4. Komunitas
5. Proses
6. Harga
5.
Analisis
konsumen dan kebijakan sosial
Analisis konsumen berguna
untuk melihat bagaimana konsumen mengambil keputusan dan peran pemasaran di
dalamnya.
Pengambilan Keputusan
Konsumen
Proses pengambilan
keputusan yang dilakukan seseorang mengalami berbagai pentahapan sebagai
berikut:
1.
Analisis Kebutuhan
Konsumen merasa bahwa dia membutuhkan
sesuatu untuk memenuhi keinginannya. Kebutuhan itu bisa dibangkitkan oleh
dirinya sendiri ataupun stimulus eksternal. Stimulus bisa melalui lingkungan
bergaul, sesuatu yang dilihat, ataupun dari komunikasi produk atau jasa
perusahaan lewat media massa,
brosur, dan lain-lain.
2.
Pencarian Informasi
Setelah kebutuhan itu
dirasakan, konsumen kemudian mencari produk ataupun jasa yang bisa memenuhi
kebutuhannya.
3.
Evaluasi Alternatif
Konsumen kemudian mengadakan evaluasi
terhadap berbagai alternatif yang tersedia mulai dari keuntungan dan manfaat
yang dia peroleh dibandingkan biaya yang harus ia keluarkan.
4.
Keputusan Pembelian
Konsumen memutuskan untuk membeli merek
tertentu dengan harga tertentu, warna tertentu.
5.
Sikap Paska Pembelian
Sikap paska pembelian
menyangkut sikap konsumen setelah membeli produk ataupun mengkonsumsi suatu
jasa. Apakah dia akan puas dan terpenuhi kebutuhannya dengan produk atau jasa
tersebut atau tidak.
Analisis Kebijakan Sosial
Analisis kebijakan (policy analysis) dapat dibedakan dengan
pembuatan atau pengembangan kebijakan (policy development). Analisis kebijakan
tidak mencakup pembuatan proposal perumusan kebijakan yang akan datang.
Analisis kebijakan lebih menekankan pada penelaahan kebijakn yang sudah ada.
Sementara itu, pengembangan kebijakan lebih difokuskan pada proses pembuatan
proposal perumusan kebijakan yang baru. Namun demikian, baik analisis kebijakan
maupun pengembangan kebijakan keduanya memfokuskan pada konsekuensi
-konsekuensi kebijakan.
Analisis kebijakan
mengkaji kebijakan yang telah berjalan, sedangkan pengembangan kebijakan
memberikan petunjuk bagi pembuatan atau perumusan kebijakan yang baru.
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa analisis
kebijakan sosial adalah usaha terencana yang berkaitan dengan pemberian
penjelasan (explanation) dan preskripsi atau rekomendasi (prescription or
recommendation) terhadap konsekuensi-konsekuensi kebijakan sosial yang telah
diterapkan. Penelaahan terhadap kebijakan sosial tersebut didasari oleh oleh
prinsip-prinsip umum yang dibuat berdasarkan pilihan-pilihan tindakan sebagai
berikut:
1. Penelitian dan rasionalisasi yang dilakukan untuk menjamin keilmiahan dari analisis yang dilakukan.
1. Penelitian dan rasionalisasi yang dilakukan untuk menjamin keilmiahan dari analisis yang dilakukan.
2. Orientasi nilai yang
dijadikan patokan atau kriteria untuk menilai kebijakan sosial tersebut
berdasarkan nilai benar dan salah.
3. Pertimbangan politik
yang umumnya dijadikan landasan untuk menjamin keamanan dan stabilitas.
6.
Proses keputusan
membeli
Keputusan pembelian
merupakan kegiatan individu yang secara langsung
terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap
produk yang ditawarkan oleh penjual. Pengertian keputusan
pembelian, menurut Kotler & Armstrong (2001: 226) adalah tahap dalam
proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli.
Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan
individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan
barang yang ditawarkan.
Keputusan
pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau
lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang
dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa
alternatif pilihan.
Menurut (Kotler, 2000:204) tahap-tahap
yang dilewati pembeli untuk mencapai keputusan membeli melewati lima tahap,
yaitu:
a. Pengenalan Masalah
b. Pencarian Informasi
c. Evaluasi alternative
d. Keputusan Membeli
e. Tingkah laku pasca pembelian.
Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut:
a.
Pengenalan Masalah
Proses membeli dimulai dengan pengenalan masalah dimana
pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan
antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.
b. Pencarian
Informasi
Proses pencarian informasi dapat berasal
dari dalam memori (internal)
dan berdasarkan pengalaman orang
lain (eksternal). Seorang konsumen yang sudah terkait mungkin mencari
lebih banyak informasi tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan konsumen kuat
dan produk yang dapat memuaskan ada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan akan
membelinya. Bila tidak, konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau
melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan kebutuhan
tersebut.Pengaruh relatif dari sumber informasi ini bervariasi menurut produk
dan pembeli. Pada umumnya, konsumen menerima sebagian besar informasi mengenai
suatu produk dari sumber komersial, yang dikendalikan oleh pemasar. Akan
tetapi, sumber paling efektif cenderung sumber pribadi. Sumber pribadi
tampaknya bahkan lebih penting dalam mempengaruhi pembelian jasa. Sumber
komersial biasanya memberitahu pembeli, tetapi sumber pribadi membenarkan atau
mengevaluasi produk bagi pembeli.
c. Evaluasi Alternative
Tahap dari proses keputusan membeli, yaitu ketika konsumen
menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk alternatif dalam perangkat
pilihan. Konsep dasar tertentu membantu menjelaskan proses evaluasi konsumen.
Pertama, kita menganggap bahwa setiap konsumen melihat produk sebagai kumpulan
atribut produk. Kedua, konsumen akan memberikan tingkat arti penting berbeda
terhadap atribut berbeda menurut kebutuhan dan keinginan unik masing-masing.
Ketiga, konsumen mungkin akan mengembangkan satu himpunan keyakinan merek
mengenai dimana posisi setiap merek pada setiap atribut. Keempat, harapan
kepuasan produk total konsumen akan bervariasi pada tingkat atribut yang
berbeda. Kelima, konsumen sampai pada sikap terhadap merek berbeda lewat
beberapa prosedur evaluasi. Ada konsumen yang menggunakan lebih dari satu
prosedur evaluasi, tergantung pada konsumen dan keputusan pembelian.
Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif barang yang akan
dibeli tergantung pada masing-masing individu dan situasi membeli spesifik.
Dalam beberapa keadaan, konsumen menggunakan perhitungan dengan cermat dan
pemikiran logis. Pada waktu lain, konsumen yang sama hanya sedikit mengevaluasi
atau tidak sama sekali; mereka membeli berdasarkan dorongan sesaat atau
tergantung pada intuisi. Kadang-kadang konsumen mengambil keputusan membeli
sendiri; kadang-kadang mereka bertanya pada teman, petunjuk bagi konsumen, atau
wiraniaga untuk memberi saran pembelian.
d. Keputusan Membeli
Dalam tahap
evaluasi, konsumen membuat peringkat merek dan membentuk niat untuk membeli. Pada umumnya, keputusan membeli
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor dapat
muncul antara niat untuk membeli dan keputusan untuk membeli. Faktor pertama
adalah sikap orang lain, yaitu pendapat dari orang lain mengenai harga, merek
yang akan dipilih konsumen. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak
diharapkan, harga yang diharapkan dan manfaat produk yang diharapkan. Akan tetapi
peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan bisa menambah niat pembelian.
e. Evaluasi Pasca Pembelian
Tahap dari proses keputusan pembeli, yaitu konsumen
mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas atau
tidak puas. Yang menentukan pembeli merasa puas atau tidak puas dengan suatu
pembelian terletak pada hubungan antara harapan konsumen dengan prestasi yang
diterima dari produk. Bila produk tidak memenuhi harapan, konsumen merasa tidak
puas, bila memenuhi harapan konsumen merasa puas, bila melebihi harapan
konsumen akan merasa puas.
Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi yang
mereka terima dari penjual, teman dan sumber-sumber yang lain. Bila penjual
melebih-lebihkan prestasi produknya, harapan konsumen tidak akan terpenuhi dan
hasilnya ketidakpuasan. Semakin besar antara kesenjangan antara harapan dan
prestasi, semakin besar ketidakpuasan kosumen. Hal ini menunjukkan bahwa
pembeli harus membuat pernyataan yang jujur mengenai prestasi produknya
sehingga pembeli akan puas.
7.
Factor-faktor
yang mempengaruhi pemecahan masalah
a.
Trial & error : Coba dan salah
Cara ini
merupakan metode yang paling rendah
tingkatannya,
dilakukan oleh orang yang belum pernah mengalami mengenal dan belum tahu sama sekali. Dalam
keperawatan ini sangat berbahaya dan tidak boleh dilakukan.
b. Intuisi
: penyelesaian masalah dengan intuisi atau naluri/ bisikan hati.
Penyelesaian
dengan cara ini kurang dianjurkan dalam metode ilmiah, karena tidak mempunyai dasar
ilmiah. Kadang-kadang metode ini juga dapat memberikan jalan keluar bila intuisi ini berdasarkan analisis atau
pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki.
c. Nursing process : Proses keperawatan
Merupakan suatu langkah penyelesaian
masalah yang
sistematis dan didukung oleh rasionalisasi secara ilmiah meliputi : pengkajian, perencanaan, implementasi
dan evaluasi yang merupakan suatu
siklus untuk
mengatasi masalah yang terjadi pada klien.
d.
Scientifik methode/Research Process : Proses riset
/ penelitian
Merupakan suatu penyelesaian
masalah berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan logika, dengan pendekatan yang sistematis.
Konsumen
menggunakan pemecahan masalah yang terbatas ketika mereka melakukan sedikit
usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini sering dilakukan oleh konsumen
ketika membeli suatu produk yang telah mereka gunakan sebelumnya.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi jangkauan pemecahan masalah :
·
Alternatif-alternatif dibedakan dengan cara yang
relevan, misalnya pembelian rumah,alternatif
pemilihan adalah lingkungan rumah (bersih, tidak banjir, dekat kota atau mudah
transportasi), bahan baku, harga (cicilan rendah dan lama).
·
Tersedia waktu yang memadai untuk pertimbangan
yang mendalam untuk membeli produk.
·
Terdapat tingkat keterlibatan (relevansi
pribadi) yang tinggi yang menyertai pembelian.
8.
Membedakan
antara keputusan membeli yang direncanakan sepenuhnya, tidak direncanakan dan
pembelian yang direncanakan sebagian
Pembelian
produk atau jasa yang dilakukan oleh konsumen bisa digolongkan kedalam tiga
macam(engel, blackell, dan miniard, 1995), seperti yang diuraikan berikut ini.
Pembelian yang direncana sepenuhnya
Jika
konsumen telah menentukan pilihan produk dan mereka jauh sebelum pembelian
dilakukan, maka ini termasuk pembalian yang direncanakan sepenuhnya. Pembelian
yang terencana sepenuhnya biasanya adalah hasil dari proses keputusan yang
diperluas atau keterlibatan yang tinggi. Konsumen yang membeli mobil baru bisa
digolongkan ked lam kategori ini karena mereka biasanya sudah punya keinginan
jenis mobil, merek dan mobil yang dibelinya sebelum masuk ke show room.
Produk dengan keterlibatan rendah mungkin juga dibeli dengan terencana.
Konsumen sering kali membuat daftar barang yang akan dibelinya jika ia pergi ke
took swalayan, ia sudah tahu produk dan merek yang akan dibelinya.
Pembelian yang tidak terencana
Konsumen
sering kali membeli suatu prosuk tanpa direncanakan terlebih dahulu. Keinginan
untuk membeli sering kali muncul di took atau di mal. Banyak factor yang
menyebabkan hal tersebut. Misalnya, display pemotongan harga 50%, yang terlihat
mencolok akan menarik perhatian konsumen. Konsumen akan merasakan kebutuhan
untuk membeli produk tersebut. Display tersebut telah membangkitkan kebutuhan
konsumen yang tertidur, sehingga konsumen merasakan kebutuhan yang mendesak
untuk membeli produk yang dipromosikan tersebut. Keputusan pembelian seperti
ini sering disebut sebagai pembelian impuls.
Sebagian
besar pembelian produk, terutama barang-barang konsumen (consumer good
purchase) dilakukan ditoko eceran. Peter dan Olson (2010) mengemukakan beberapa
perilaku yang dilakukan dalam proses pembelian barang-barang konsumen ditoko
eceran, seperti yang diuraikan berikut ini.
Pembelian yang direncanakan sebagian
Konsumen
sering kali sudah mengetahui ingin membeli suatu produk sebelum masuk ke
swalayan, namun mungkin ia tidak tahu merek yang akan dibelinya sampai ia bisa
memperoleh informasi yang lengkap dari pramuniaga atau display di swalayan.
Ketika ia sudah tahu produk yang ingin dibeli sebelumnya dan memutuskan merek
dari produk tersebut di toko, maka ini termasuk pembelian yang separuh
terencana.
Sumber :