Pengertian Penalaran
Penalaran
adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau
petunjuk untuk menarik suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah
proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan.
Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman,
atau pendapat para ahli (otoritas). Contoh saja kalau kita sedang berada di air
terjun dan terdapat lintah di kaki kita, apakah yang akan kita lakukan? Nah
disitulah nalar kita bekerja. Segera mencari sebuah solusi agar kita bisa
terhindar dari lintah dengan cara memikirkan sesuatu yang bisa dipakai untuk
menyingkirkannya.
Ciri
– Ciri Penalaran :
1. Adanya suatu pola pikir yang secara
luas di sebut logika.
2. Sifat analitik dari proses berfikir.
Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiata
berfikir berdasarkan langkah – langkah
tertentu.
3. Menghasilakan kesimpulan berupa
pengetahuan,keputusan atau sikap yang baru.
4. Premis berupa pengalaman atau
pengetahuan, bahkan teori yang telah di peroleh.
Tujuan
Penalaran
Tujuan
dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis atau objektif, apakah yang
kita lakukan itu benar atau tidak sehingga dapat dilaksanakan.
Syarat-syarat Penalaran
Jika seseorang melakukan
penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat
dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
·
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki
seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
·
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah
premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu
yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki
bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat
sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
Proses
bernalar meliputi beberapa tahap. Tahapan-tahapan tersebut adalah:
1.
Mengerti
: tahap dimana seseorang memahami segala
aspek dari objek yang
diamati.
2.
Memutuskan : menetapkan kesimpulan sementara berdasarkan
fakta-fakta yang
ada.
3.
Menyimpulkan : memberikan
kesimpulan yang pasti mengenai objek yang diamati
setelah
fakta-fakta yang ada di uji kembali kebenarannya.
Cara Menguji Data
a. Observasi
(metode pengamatan langsung) : metode pengumpulan data dengan mengamati secara
langsung di lapangan. Mengamati bukan hanya melihat, melainkan juga merekam,
menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian-kejadian yang ada.
b. Kesaksian : Keharusan menguji data dan
informasi, tidak
selalu harus dilakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk
mengharuskan seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan.
Kesulitan itu terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus dikeluarkan.
Untuk mengatasi hal itu penulis atau pengarang dapat melakukan pengujian dengan
meminta kesaksian atau keterangan dari orang lain, yang tidak mengalami sendiri
atau menyelidiki sendiri persoalan itu.
c. Autoritas :
Cara ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji fakta dalam usaha menyusun
evidensi adalah meminta pendapat dari suatu autoritas, yakni pendapat dari seorang
ahli, atau mereka yang telah menyelidiki fakta-fakta itu dengan cermat,
memperhatikan semua kesaksian, menilai semua fakta kemudian memberikan pendapat
mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam bidang itu.
Cara
Menguji Fakta
a. Konsistensi : Dasar pertama yang dipakai untuk
menetapkan fakta mana yang akan dipakai sebagai evidensi adalah kekonsistenan.
Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga persuasif yang tinggi, kalau
evidensi-evidensinya bersifat konsisten, tidak ada satu evidensi bertentangan
atau melemahkan evidensi yang lain.
b. Koherensi : Dasar kedua yang dapat dipakai
untuk mengadakan penilaian fakta mana yang dapat dipergunakan sebagai evidensi
adalah masalah koherensi. Semua fakta yang akan dipergunakan sebagai evidensi
harus pula koheren dengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan
pandangan atau sikap yang berlaku. Bila penulis menginginkan agar sesuatu hal
dapat diterima, ia harus meyakinkan pembaca bahwa karena pembaca setuju atau
menerima fakta-fakta dan jalan pikiran yang menemukakannya, maka secara
konsekuen pula pembaca harus menerima hal lain, yaitu konklusinya.
Cara Menilai Autoritas
a.
Tidak Mengandung
Prasangka : Dasar
pertama yang perlu diketahui oleh penulis adalah bahwa pendapat autoritas sama
sekali tidak boleh mengandung prasangka. Yang tidak mengandung prasangka
artinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
ahli itu sendiri, atau didasarkan pada hasil-hasil eksperimental yang
dilakukannya. Pengertian tidak mengandung prasangka juga mencakup hal lain,
yaitu bahwa autoritas itu tidak boleh memperoleh keuntungan pribadi dari
data-data eksperimentalnya.
b. Pengalaman dan Pendidikan
Autoritas : Dasar
kedua yang harus diperhitungkan penulis untuk menilai pendapat suatu autoritas
adalah menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang
diperolehnya harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan-kegiatan sebagai
seorang ahli yang diperoleh melalui pendidikannya tadi. Walaupun jaman kita ini sudah begitu
condong atau cenderung dengan berbagai macam spesifikasi, namun kita tidak
boleh mengabaikan keahlian seseorang dalam beberapa macam bidang tertentu.
c. Kemashuran dan Prestise : Faktor ketiga yang harus diperhatikan
oleh penulis untuk menilai autoritas adalah meneliti apakah pernyataan atau
pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi di
balik kemashuran dan prestise pribadi di bidang lain.
d. Koherensi dengan Kemajuan : Hal keempat yang perlu
diperhatikan penulis argumentasi adalah apakah pendapat yang diberikan
autoritas itu sejalan dengan perkembangan dan kemajuan jaman, atau koheren
dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang itu. untuk memberi evaluasi
yang tepat terhadap autoritas yang dikutip, pengarang harus menyebut nama
autoritas, gelar, kedudukatif, dan sumber khusus tempat kutipan itu dijumpai.
Bila mungkin penulis harus mengutip setepat-tepatnya kata-kata atau kalimat
autoritas tersebut. Untuk memperlihatkan bahwa penulis sungguh-sungguh siap
dengan persoalan yang tengah diargumentasikan, maka sebaiknya seluruh
argumentasi itu jangan didasarkan hanya pada satu autoritas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar