Hipotesis adalah
jawaban sementara terhadap suatu masalah. Jawaban tersebut masih perlu diuji
kebenarannya. Seorang peneliti pasti akan mengamati sesuatu gejala, peristiwa,
atau masalah yang menjadi focus perhatiannya. Sebelum mendapatkan fakta yang
benar, mereka akan membuat dugaan tentang gejala, peristiwa, atau masalah yang
menjadi titik perhatiannya tersebut.
Dalam penelitian ada
dua jenis hipotesis yang seringkali harus dibuat oleh peneliti, yakni hipotesis
penelitian dan hipotesis statistik. Pengujian hipotesis penelitian merujuk pada
menguji apakah hipotesis tersebut betul-betul terjadi pada sampel yang diteliti
atau tidak. Jika apa yang ada dalam hipotesis benar-benar terjadi, maka
hipotesis penelitian terbukti, begitu pun sebaliknya. Sementara itu, pengujian
hipotesis statistik berarti menguji apakah hipotesis penelitian yang telah
terbukti atau tidak terbukti berdasarkan data sampel tersebut dapat
diberlakukan pada populasi atau tidak.
2. Macam-macam Hipotesis
Terdapat tiga macam hipotesis dalam penelitian, yakni hipotesis deskriptif, hipotesis komparatif, dan hipotesis asosiatif. Masing-masing dari hipotesis ini dapat digunakan sesuai dengan bentuk variabel penelitian yang digunakan. Apakah penelitian menggunakan variabel tunggal/ mandiri atau kah variabel jamak ? Jika yang digunakan adalah variabel jamak, apa yang ingin diketahui oleh peneliti dalam rumusan masalah?
· Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskripsif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yang berhubungan dengan variabel tunggal/mandiri.
Contoh:
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah bakso di restoran
Bakso Slamet Malang mengandung boraks atau tidak.
Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut:
Apakah bakso di restoran Bakso Slamet Malang mengandung boraks?
Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel
tunggal yakni bakso di restoran Bakso Slamet Malang, maka hipotesis yang
digunakan adalah hipotesis deskriptif. Ada dua pilihan hipotesis yang dapat
dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia gunakan, yakni:
Ho : Bakso di restoran Bakso Slamet Malang mengandung boraks,
atau
H1 : Bakso di restoran Bakso Slamet Malang tidak mengandung
boraks.
· Hipotesis Komparatif
· Hipotesis Komparatif
Hipotesis komparatif dapat didefinisikan sebagai dugaan atau
jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan perbandingan
(komparasi) antara dua variabel penelitian.
Contoh:
Seorang peneliti hendak mengetahui bagaimana sikap loyal
antara pendukung club sepakbola Manchester United jika dibandingkan dengan
sikap loyal pendukung club sepakbola Chelsea. Apakah pendukung memiliki tingkat
loyalitas yang sama ataukah berbeda.
Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut:
Apakah pendukung club sepakbola Manchester United dan Chelsea memiliki tingkat
loyalitas yang sama?
Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel
jamak. Variabel pertama adalah loyalitas club sepakbola Manchester United,
sedangkan variabel kedua adalah loyalitas club sepakbola Chelsea. Karena
rumusan masalah mempertanyakan perihal perbandingan antara dua variabel, maka
hipotesis yang digunakan adalah hipotesis komparatif. Ada dua pilihan hipotesis
yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia gunakan, yakni:
Ho:
Pendukung club Manchester United memiliki tingkat loyalitas yang sama dengan
pendukung club Chelsea, atau
H1:
Pendukung club Manchester United memiliki tingkat loyalitas yang tidak sama
(berbeda) dengan pendukung club Chelsea.
· Hipotesis Asosisatif
· Hipotesis Asosisatif
Hipotesis asosiatif dapat didefinisikan sebagai
dugaan/jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang mempertanyakan hubungan
(asosiasi) antara dua variabel penelitian.
Contoh:
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah sinetron berjudul
“Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor.
Maka peneliti dapat membuat rumusan masalah seperti berikut:
Apakah sinetron berjudul “Anak Jalanan” memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam
mengendarai motor?
Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah variabel
jamak. Variabel pertama adalah sinetron berjudul “Anak Jalanan”, sedangkan
variabel kedua adalah gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor. Karena
rumusan masalah mempertanyakan perihal hubungan antara dua variabel, maka
hipotesis yang digunakan adalah hipotesis asosiatif. Ada dua pilihan hipotesis
yang dapat dibuat oleh peneliti sesuai dengan dasar teori yang ia gunakan,
yakni:
Ho
: Sinetron berjudul “Anak Jalanan”
memengaruhi gaya remaja laki-laki dalam mengendarai motor, atau
H1
: Sinetron berjudul “Anak Jalanan” tidak memengaruhi gaya remaja laki-laki
dalam mengendarai motor.
3.
Jenis-Jenis Hipotesis
a. Hipotesis Nol
(Ho)
Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang
menyatakan tidak adanya hubungan antara variabel independen (X) dan variabel
dependen (Y). Artinya, dalam rumusan hipotesis, yang diuji adalah
ketidakbenaran variabel (X) mempengaruhi (Y). Ex: “tidak ada hubungan antara
warna baju dengan kecerdasan mahasiswa”.
b. Hipotesis Kerja (H1)
Hipotesis Kerja (H1) adalah hipotesis
yang menyatakan adanya hubungan antara variabel independen (X) dan variabel
dependen (Y) yang diteliti. Hasil perhitungan H1 tersebut, akan digunakan
sebagai dasar pencarian data penelitian.
4.
Ciri-ciri Hipotesis Yang
Baik
Setiap
orang bisa membuat hipotesis, entah hipotesis dalam penelitian maupun hipotesis
untuk hal-hal yang lebih sederhana dalam berbagai gejala di kehidupan
sehari-hari. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk
menghasilkan suatu hipotesis yang baik. Menurut Moh. Nazir, setidaknya ada 6
ciri-ciri hipotesis yang baik, yaitu:
- Harus menyatakan hubungan
- Harus sesuai dengan fakta
- Harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan
- Harus dapat diuji
- Harus sederhana
- Harus bisa menerangkan fakta
Dengan demikian, untuk membuat sebuah hipotesis yang baik,
seorang peneliti harus mempertimbangkan fakta-fakta yang relevan, masuk akal
dan tidak bertentangan dengan hukum alam. Selain itu, hipotesis juga harus bisa
diuji sebagai langkah verifikasi dalam penelitian.
5. Teori Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis
Untuk memudahkan proses pembentukan hipotesis, seorang
peneliti biasanya menurunkan sebuah teori menjadi sejumlah asumsi dan
prostulat. Asumsi-asumsi tersebut dapat didefinisikan sebagai anggapan atau
dugaan yang mendasari hipotesis. Berbeda dengan asumsi, hipotesis yang telah
diuji dengan menggunakan data melalui proses penelitian adalah dasar untuk
memperoleh kesimpulan.
6. Fakta Ilmiah Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis
Selain
menggunakn teori sebagai acuan, dalam merumuskan hipotesis dapat pula
menggunakan acuan fakta. Secara umum, fakta dapat didefinisikan sebagai
kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan yang dapat
dikenali dengan panca indera.
Fakta
Ilmiah sebagai acuan perumusan hipotesis dapat diperoleh dengan berbagai cara,
misalnya:
- Memperoleh dari sumber aslinya
- Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya dari sumber yang asli.
- Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam bentuk abstract reasoning (penalaran abstrak).
Selain
teori dan fakta ilmiah, hipotesis dapat pula dirumuskan berdasarkan beberapa
sumber lain, yakni:
- Kebudayaan dimana ilmu atau teori yang relevan dibentuk
- Ilmu yang menghasilkan teori yang relevan
- Analogi
- Reaksi individu terhadap sesuatu dan pengalaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar